Jogja StayJogja Stay

By signing up, I agree to Travelo's Terms of Service, Privacy Policy, Guest Refund Policy, and Host Guarantee Terms

Already a member?

Jogja StayJogja Stay
Forgot password?

Don't have an account?

Travel Guide Yogyakarta

  • Indonesia
  • Yogyakarta
  • 3185,80 km2
  • Mon 12:19 am
  • Rupiah
  • Indonesia
  • 3.657.700 Jiwa
  • Always enjoyed my stay with Hilton Hotel and Resorts, top class room service and rooms have great outside views and luxury assessories. Thanks for great experience.

    author-image
    Jessica Brown
  • Always enjoyed my stay with Hilton Hotel and Resorts, top class room service and rooms have great outside views and luxury assessories. Thanks for great experience.

    author-image
    Lisa Kimberly
  • Always enjoyed my stay with Hilton Hotel and Resorts, top class room service and rooms have great outside views and luxury assessories. Thanks for great experience.

    author-image
    Simon

Tentang Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta (bahasa Jawa: Dhaérah Istiméwa Ngayogyakarta) adalah Daerah Istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan Pulau Jawa, dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini terdiri atas satu kotamadya, dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan, dan 438 desa/kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010 memiliki populasi 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404 laki-laki, dan 1.746.986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk sebesar 1.084 jiwa per km.
width=

Tempat Wisata di Yogyakarta

Kota Yogyakarta atau akrab disebut Jogja adalah destinasi wisata yang sangat mempesona. Buktinya, kota ini selalu ramai dikunjungi para pelancong dari luar kota, terutama pada masa-masa liburan. Ada banyak magnet yang menjadi daya tarik Kota Jogja. Tempat wisata, kuliner, budaya dan kesenian, serta arsitektur bangunan yang ada di Jogja bisa membuat para pengunjung semakin jatuh cinta.

Hotel Di Yogyakarta

Nah, apabila Anda sedang merencanakan liburan ke Jogja dalam waktu dekat, tak perlu bingung mencari tempat untuk bermalam, Berikut ini daftar Hotel di Jogja dengan harga terjangkau dan berkualitas. Klik disini

Budaya dan Sejarah Yogyakarta

imageframe-image

Budaya

Kraton Yogyakarta melaksanakan upacara Labuhan setiap tahunnya. Kata “labuh” artinya mirip kata “larung” yang bermakna membuang sesuatu ke dalam air baik sungai atau laut. Secara sederhana upacara ini sendiri bisa diartikan sebagai aktivitas memberi sesaji / persembahan kepada roh halus yang berkuasa di suatu tempat. Tujuannya untuk keselamatan pribadi Sri Sultan, kraton serta rakyat Yogyakarta. Sedangkan cara pemberian sesaji tergantung dari lokasi upacara Labuhan itu sendiri. Semisal, upacara Labuhan di Pantai Parangkusumo. Di pantai itu, pelaksanaan upacara labuhan dilakukan dengan cara melemparkan sesaji ke laut. Berbeda halnya saat upacara ini dilaksanakan di gunung Merapi. Benda-benda sesaji hanya diletakkan di lereng gunung di sisi tengah atau dalam bahasa Jawa-nya disebut Kendit. Di gunung Lawu, upacara ini dilakukan di desa Dlepih. Caranya dengan meletakkan semua sesaji di atas “sela gilang” atau meja yang terbuat dari batu.

Sejarah

Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta merupakan daerah yang mempunyai pemerintahan sendiri atau disebut Zelfbestuurlandschappen/Daerah Swapraja, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755, sedangkan Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo (saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang bergelar Adipati Paku Alam I pada tahun 1813. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan, dan Pakualaman sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangganya sendiri yang dinyatakan dalam kontrak politik. Kontrak politik yang terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblaad 1942 Nomor 47, sedangkan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 Nomor 577. Eksistensi kedua kerajaan tersebut telah mendapat pengakuan dari dunia internasional, baik pada masa penjajahan Belanda, Inggris, maupun Jepang. Ketika Jepang meninggalkan Indonesia, kedua kerajaan tersebut telah siap menjadi sebuah negara sendiri yang merdeka, lengkap dengan sistem pemerintahannya (susunan asli), wilayah, dan penduduknya.
imageframe-image
imageframe-image

Wisata

Pariwisata merupakan sektor utama bagi DIY. Banyaknya objek, dan daya tarik wisata di DIY telah menyerap kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Pada 2010 tercatat kunjungan wisatawan sebanyak 1.456.980 orang, dengan rincian 152.843 dari mancanegara, dan 1.304.137 orang dari nusantara. Bentuk wisata di DIY meliputi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), wisata budaya, wisata alam, wisata minat khusus, dan berbagai fasilitas wisata lainnya, seperti resort, hotel, dan restoran. Tercatat ada 37 hotel berbintang, dan 1.011 hotel melati di seluruh DIY pada 2010. Adapun penyelenggaraan MICE sebanyak 4.509 kali per tahun atau sekitar 12 kali per hari. Keanekaragaman upacara keagamaan, dan budaya dari berbagai agama serta didukung oleh kreativitas seni, dan keramahtamahan masyarakat, membuat DIY mampu menciptakan produk-produk budaya, dan pariwisata yang menjanjikan. Pada tahun 2010 tedapat 91 desa wisata dengan 51 di antaranya yang layak dikunjungi. Tiga desa wisata di kabupaten Sleman hancur terkena erupsi gunung Merapi sedang 14 lainnya rusak ringan. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta pada September 2014, angka kunjungan mencapai 2,4 juta wisatawan domestik dan 1,8 juta wisatawan manca negara.